The Stranger
Bismillah, first of
all, mohon saran dan koreksinya kalau
ada salah-salah kata atau hal lainnya.
Semoga Allah selalu membimbing kita pada jalan yang
diridhoiNya. Aamiin.
Manusia. Terkadang manusia sering lupa ia berasal darimana,
hidup untuk apa, mati bawa apa. Semua manusia itu adalah Hamba, diciptakan
bukan menciptakan. Apa sebenarnya tujuan Allah menciptakan manusia? Pastinya
ada tujuannya dong. Yaitu sebagai abid dan juga khalifah. Apa itu abid? Abid
itu, Hamba Allah yang senantiasa beribadah padaNya, apapun yang kita lakukan
semata-mata untuk beribadah pada Allah (Adz-zariyat : 56). What is khalifah?
Khalifah sendiri adalah kita sebagai manusia diperintahkan untuk menyampaikan ajaran
agama ini pada orang lain. Mendakwahkannya, menyuruh pada yang ma’ruf dan
mencegah pada yang munkar (Al-Baqarah : 30).
Life is a journey from
Allah to Allah. Kita hidup di dunia ini hanyalah sebagai musaffir, sebagai
orang asing yang hanya mencari bekal untuk bisa kembali ke tempat yang sangan
menenangkan, yaitu syurga.
Lalu bagaimana sebenarnya orientasi kita sebagai seorang
muslim? Orang mukmin, bila melakukan sesuatu yang ia pandang hanyalah
keberuntungan di akhirat. Dunia tidak dipandangnya sesuatu yang indah. Dunia
hanya sebagai tempat untuk mencari bekal akhirat. Semua orientasinya bertuju
pada negeri akhirat. Jika orang memandangnya, akan terlihat kebaikan.”…Negeri akhirat itu lebih baik bagi orang
yang bertaqwa” (QS.Al-A’raf :169). Kemenangan seorang muslim adalah
diampuni dosanya dan mendapatkan syurga. Hidup ini juga penuh dengan ujian.
Entah itu ujian keimanan, akademik, keuangan, keluarga, pertemanan. Sampai
terasa letih dengan masalah-masalah yang dihadapi. Itu karena hakikatnya hidup
kita bukan untuk dunia. Kalau kita mau istirahat dan gamau lagi ada masalah tandanya
hidup kita di dunia udah selesai. Karena tempat istirahat kita yang sebenarnya
adalah di negeri akhirat. Kalau ingin tempat istirahat yang tenang dan
menenangkan ya tempatnya di syurga. Kalau kamu inginkan syurga ya usahakanlah.
Itu sudah jelas di dalam Al-Qur’an. Mudahnya, Jauhi larangan Allah dan taati
perintahNya. Jangan takut sama masalah apapun yang sedang/akan kamu hadapi.
Karena kita hanya boleh takut sama Allah. Usahakan saja dulu yang terbaik untuk
menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi. Masalah itu juga untuk
meningkatkan kualitas keimanan kita. apapun hasil dari apa yang sudah kita
usahakan, itu biar Allah yang menentukan. Yang penting kita sudah usahakan
sebaik mungkin. Kalau apa yang kita dapat tidak sesuai dengan apa yang kita
inginkan yasudah, ambil hikmahnya “…tetapi
boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh
jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui,
sedang kamu tidak mengetahui (QS : Al-Baqarah : 216)” Ingatlah pertolongan
Allah itu dekat bagi hamba-hambaNya yang bertaqwa. Qawi Jiddan!
Hal yang paling penting juga adalah niat. Karena niat ini
juga yang membedakan antara kita (orang muslim) dengan orang non muslim. Even
hal-hal kecil perlu ada niatnya, contoh kecil kita membeli pena, kita membeli
pena dengan niat untuk mencatat ilmu dan kebenaran, dari niat itu saja kita
sudah mendapatkan pahala. Niat itu juga membedakan antara ibadah dan adat
(kebiasaan). Contoh dari adat
(kebiasaan) saat kita pergi ke kelas, itu sudah menjadi hal yang rutin kita
lakukan. Kalau disetiap masuk kelas kita perbarui niat kita antara lain untuk
beribadah, nilai pahalanya udah beda. Besar/ kecilnya suatu amalan juga
tergantung pada niatnya. Kita melakukan suatu amal kebaikan tidak mengharap
balasan apa-apa di dunia, yang kita harapkan hanya rahmat Allah. kita juga baiknya selalu berbuat kebaikan,
karena kebaikan yang satu akan menimbulkan kebaikan seterusnya. Dan kebaikan
itu juga bisa menghapuskan keburukan kita. melakukan hal baik itu sederhana.
Niat yang baik maka hasilnya pun pasti baik. Tak ada sesuatu hal yang sia-sia
sementara kau melakukan semua itu atas dasar karena Allah. tapi hati-hati juga,
bisa jadi amalan kita menjadi sia-sia, bagaimana bisa? Dia akan menjadi sia-sia
kalau dilakukan tanpa disertai ikhlas (riya’) hanya mengharapkan pujian dari
makhlukNya dan tanpa mengikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Padahal kita harusnya hanya mengharapkan keridhoan dari Allah. dalam berhijrah pun demikian, gaperlu
peduliin bagaimana pendapat dan pandangan orang lain pada kita, ingin dipandang
lebih baik dan sebagainya. “Engkau takkan
mampu menyenangkan semua orang, karena itu cukup bagimu memperbaiki hubungan
dengan Allah, dan jangan terlalu peduli dengan penilaian manusia –Imam Syafi’i.
Asal Allah ridho, selesai. Inti hidup ini adalah berlomba-lombalah menjadi
yang terbaik, perbedaannya, ingin dilihat oleh siapa? Niat letaknya ada diawal, niat juga harus
selalu diperbarui, even saat kita dalam berproses. Karena kita tak tahu
godaan-godaan apa yang akan kita hadapi di tengah sedang berproses.
Allah itu Maha Baik, Maha Tahu. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku,
maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdo’a apabila
ia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman
kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran. (QS:Al-Baqarah : 186).
Komentar
Posting Komentar